Baiklah, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Aku Mencintaimu Lebih Dari Yang Bisa Kubayar': **Aku Mencintaimu Lebih Dari Yang Bisa Kubayar** Lorong Istana Timur itu sunyi, *lebih sunyi* dari biasanya. Lampu-lampu lentera merah redup bergoyang, memantulkan bayangan panjang menakutkan di dinding berukir naga. Udara terasa dingin, menusuk tulang, seolah menyimpan rahasia kelam selama bertahun-tahun. Tujuh tahun. Tujuh tahun sejak Jenderal Zhao Yi dinyatakan hilang dalam perang di perbatasan utara, *mati* di tangan barbar. Namun, malam ini, dia berdiri di sana. Bukan Jenderal Zhao Yi yang gagah berani dengan baju zirahnya yang berkilauan. Melainkan seorang pria kurus, berjubah hitam, wajahnya tertutup sebagian oleh kerudung. Hanya matanya yang terlihat, menatap lurus ke arah Kaisar Li Wei yang duduk di singgasananya. Mata yang sama, namun lebih dingin, lebih dalam, seolah telah melihat neraka. "Zhao Yi?" Kaisar Li Wei berseru, suaranya bergetar. "Apakah... apakah itu benar-benar kau?" Pria itu membungkuk hormat, namun tidak berlutut. "Yang Mulia Kaisar. Ini aku." "Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin kau masih hidup? Kami mencariimu selama bertahun-tahun..." "Aku *diselamatkan*," jawab Zhao Yi, suaranya lembut namun menusuk. "Oleh orang-orang yang...menemukanku tergeletak tak berdaya di medan perang." Kaisar Li Wei bangkit dari singgasananya, menghampiri Zhao Yi. "Siapa? Siapa yang menyelamatkanmu? Kami berhutang budi kepada mereka!" Zhao Yi mengangkat kepalanya, kerudungnya sedikit tersingkap, memperlihatkan bekas luka mengerikan yang melintang di pipinya. "Kau tidak berhutang budi kepada mereka, Yang Mulia. Kau justru berhutang... KEPADAKU." Hening. Udara terasa semakin berat. "Apa maksudmu?" tanya Kaisar Li Wei, kerutan muncul di dahinya. Zhao Yi tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Kau tahu, Yang Mulia. Kau selalu tahu. Aku mencintaimu lebih dari yang bisa kubayar. Aku mempertaruhkan nyawaku untukmu, memimpin pasukanmu ke garis depan, mengalahkan musuh-musuhmu. Dan sebagai imbalannya... kau menikahi Putri Lan, wanita yang *seharusnya* menjadi milikku." Kaisar Li Wei mundur selangkah. "Itu... itu demi stabilitas kerajaan. Kau tahu..." "Stabilitas kerajaan?" Zhao Yi tertawa hambar. "Atau *ketakutanmu* padaku? Ketakutanmu bahwa aku akan merebut tahtamu? Karena aku adalah Jenderal yang dicintai rakyat, pahlawan yang diagungkan semua orang?" Kaisar Li Wei terdiam. "Kau *menjebakku*," lanjut Zhao Yi, suaranya bergetar karena amarah tertahan. "Kau mengirimku ke perbatasan dengan pasukan yang kurang memadai, berharap aku mati di sana. Dan kau berhasil. Selama tujuh tahun, aku hidup dalam penderitaan, merencanakan pembalasanku." Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik jubahnya. Membukanya, memperlihatkan jepit rambut emas berbentuk bunga plum. Identik dengan yang dipakai Putri Lan. "Aku menyelamatkan Putri Lan dari bahaya saat perang. Aku membawanya dari pengkhianat yang ingin membunuh wanita itu. *Kau* lah yang berkhianat Yang Mulia!" Kaisar Li Wei menatap jepit rambut itu dengan ngeri. "Apa yang ingin kau lakukan?" Zhao Yi melangkah mendekat, matanya berkilat-kilat. "Aku sudah melakukan apa yang harus kulakukan. Aku sudah memberikanmu jawaban atas pertanyaan yang tak pernah terucap. Dan sekarang..." Dia meraih tangan Kaisar Li Wei, menggenggamnya erat. "Aku akan mengambil apa yang menjadi hakku." Kaisar Li Wei mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman Zhao Yi terlalu kuat. "Apa... apa yang..." Zhao Yi membisikkan sesuatu di telinga Kaisar Li Wei. Sesuatu yang membuat mata Kaisar Li Wei membelalak, wajahnya pucat pasi. Kemudian, Zhao Yi melepaskan genggamannya. Kaisar Li Wei jatuh berlutut, tubuhnya gemetar. Zhao Yi berbalik, berjalan pergi meninggalkan lorong istana yang sunyi. Di belakangnya, Kaisar Li Wei tetap berlutut, membeku dalam ketakutan, menyadari bahwa selama ini, dia hanyalah bidak dalam permainan yang lebih besar. *Korban* tidak pernah menjadi korban. Dia selalu memegang kendali. Dan kalimat terakhir yang terngiang di benak Kaisar Li Wei adalah: **"Kau telah membayar hutangmu, Yang Mulia. Sekarang, giliranmu untuk mati."**
You Might Also Like: Supplier Skincare Tangan Pertama Modal
