Oke, ini dia kisah Dracin intens yang kamu minta, dengan sentuhan yang kamu inginkan: **Aku Mencintaimu Lebih dari yang Bisa Kubayar** Malam di Lembah Seribu Kabut terasa abadi. Bulan pucat menggantung seperti koin perak yang dilupakan di langit kelabu, menyoroti salju yang ternoda. Bukan hanya salju putih, tapi **DARAH**. Merah membeku di atas putih, kontras memilukan yang seolah melukiskan jiwa mereka. Li Hua, berdiri tegak di tengah badai salju, jubah merahnya berkibar seperti bendera perang. Di hadapannya, berlutut dengan kepala tertunduk, adalah Ren Jie, pria yang pernah menjadi dunianya, sekarang hanyalah bayangan dari cinta mereka yang membara. Aroma dupa pahit dari altar leluhur yang terbakar menambah berat suasana, menyengat hidung dan menusuk kalbu. "Kau mencintaiku, Li Hua?" suara Ren Jie serak, nyaris tak terdengar di tengah deru angin. Li Hua tertawa, tawa hampa yang membekukan. "Mencintaimu? Aku mencintaimu lebih dari yang bisa kubayar, Ren Jie. Lebih dari kehormatanku, lebih dari nyawaku… dan lihat apa yang kaulakukan dengan cinta itu!" **RAHASIA** lama, yang terkubur dalam sumpah bisu dan perjanjian berdarah, akhirnya meledak. Terungkaplah bahwa Ren Jie, demi ambisi kekuasaan, telah mengkhianati keluarga Li Hua, membantai mereka semua, kecuali dirinya. Air mata mengalir di pipi Li Hua, membeku menjadi kristal es yang tajam sebelum jatuh ke salju. "Aku bersumpah di atas abu leluhurku," bisik Li Hua, suaranya bergetar namun penuh tekad, "Kau akan membayar setiap tetes air mata ini. Setiap malam tanpa tidur. Setiap hari dalam ketakutan." Ren Jie mendongak, matanya berkilat ketakutan. "Li Hua, kumohon…" Li Hua mengangkat tangannya. Di tangannya tergenggam belati perak, memantulkan cahaya bulan dengan kilau **MEMATIKAN**. "Janji di atas abu, Ren Jie. **JANJI** yang tak bisa dibatalkan." Balas dendamnya bukan jeritan histeris atau amukan membabi buta. Bukan, balas dendam Li Hua adalah ketenangan yang membekukan. Dia menancapkan belati itu ke jantung Ren Jie. Tidak ada perlawanan. Tidak ada teriakan. Hanya erangan pendek sebelum pria itu ambruk ke salju. Li Hua berlutut di samping jasad Ren Jie. Tangannya, yang berlumuran darah, menyentuh wajah dingin pria itu. "Kau akhirnya bebas, Ren Jie. Bebas dari cinta dan kebencianku. Bebas dari **KEBENARAN**." Li Hua berdiri, meninggalkan jasad Ren Jie di tengah badai salju. Dia berjalan menjauh, siluetnya menghilang ditelan malam. Angin menderu kencang, membawa serta aroma dupa, darah, dan… **HARAPAN**? Di kejauhan, burung gagak hitam terbang melintas, menyisakan keheningan abadi. _Malam itu, kebenaran akhirnya terungkap, namun takdir tak pernah melupakan tagihannya._
You Might Also Like: Review Skincare Lokal Untuk Memperbaiki
