Baiklah, ini dia kisah dracin pendek yang Anda inginkan: **Takhta yang Menyimpan Nama yang Sama** Aroma cendana dan tinta memabukkan memenuhi Aula Obsidian, tempat Kaisar wanita termuda dalam sejarah, Li Wei, bertahta. Usianya baru 21, namun matanya menyimpan *kedalaman laut purba*. Ia memandang para menteri, wajah-wajah yang terasa familier namun asing. Ada bisikan yang mengatakan ia adalah reinkarnasi Kaisar Minghua, penguasa yang dibunuh secara misterius dua dekade lalu. Li Wei sendiri tak yakin. Setiap malam, mimpi aneh menghantuinya. Istana yang sama, namun penuh darah. Senyum yang menusuk, diikuti tikaman belati. Nama-nama berbisik di kegelapan, salah satunya mencuat: *Xie Rong*. Xie Rong adalah Perdana Menteri yang menjabat sekarang. Pria yang bijaksana, setia, dan… terlampau sempurna. Ia selalu hadir di sisinya, membimbing dengan sabar. Namun, setiap kali mata Li Wei bertemu dengan matanya, sekelebat rasa *sakit* menembus hatinya. Suatu hari, Li Wei menemukan sebuah kotak terkunci di kamar rahasia almarhum Kaisar. Di dalamnya, lukisan seorang wanita. Wajahnya… wajahnya mirip dirinya. Di belakang lukisan itu tertulis, "Untuk Minghua, *cintaku yang dikhianati*." Li Wei mulai menyelidiki. Ia menggali arsip kerajaan, membaca surat-surat kuno, berbicara dengan para pelayan tua yang masih mengingat Kaisar Minghua. Setiap kepingan informasi mengarah pada satu kesimpulan: Xie Rong, kekasih Minghua, adalah orang yang merencanakan pembunuhannya. Ia ingin merebut takhta, namun gagal, lalu menempatkan seorang Kaisar boneka agar ia bisa memerintah dari balik layar. ***KENAPA?*** Li Wei tak mengerti. Cinta macam apa yang tega mengkhianati sedalam itu? Balas dendam bukanlah pilihannya. Li Wei tak ingin menodai tangannya dengan darah. Ia menginginkan keadilan, bukan kematian. Dengan setiap dekrit yang ia tanda tangani, setiap kebijakan yang ia terapkan, ia perlahan namun pasti melucuti kekuatan Xie Rong. Ia mempromosikan orang-orang yang setia kepadanya, membangun aliansi baru, dan membongkar jaringan korupsi yang dibangun Xie Rong selama bertahun-tahun. Puncaknya adalah saat perayaan ulang tahun Li Wei. Di hadapan seluruh istana, ia mengumumkan reformasi besar-besaran yang akan mengembalikan kekuasaan kepada rakyat. Xie Rong menentang dengan keras, mencoba menggoyahkan keyakinan para menteri. Namun, Li Wei telah siap. Ia membeberkan bukti-bukti pengkhianatan Xie Rong, membongkar semua kejahatannya di masa lalu. Xie Rong *terdiam*. Matanya yang selalu tenang kini dipenuhi kepanikan. Ia tahu, permainannya telah usai. Li Wei tak memerintahkan hukuman mati. Ia membiarkan Xie Rong hidup, namun dalam kehinaan. Ia membiarkannya menyaksikan kerajaannya berubah, menyaksikan visinya hancur di depan matanya. Sebelum Xie Rong dibawa pergi, Li Wei mendekat. Ia berbisik, “Kau mengkhianatiku sekali, Xie Rong. Tapi *takdir* memberiku kesempatan kedua. Dan kali ini, aku yang menentukan akhir ceritanya.” Saat Xie Rong menghilang dari pandangan, Li Wei menatap langit malam. Bintang-bintang berkelap-kelip, seolah menyimpan rahasia kuno. Ia memegang jepit rambut giok kesayangannya, hadiah dari Minghua dulu. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Dunia ini mungkin berubah, namun janjiku padamu *akan* kutunaikan, meskipun seribu tahun berlalu…
You Might Also Like: Absurd Tapi Seru Ia Tak Pernah Berjanji
