Ini Baru Cerita! Aku Menunggumu Lahir Di Dunia Yang Tak Mengenal Air Mata



Aku Menunggumu Lahir di Dunia Yang Tak Mengenal Air Mata

Langit Kota Naga bagai lukisan kelabu abadi, tak pernah mengenal cerahnya mentari. Di sanalah, di tengah gang sempit yang berbau kemiskinan dan pengkhianatan, kami tumbuh bersama. Aku, Li Wei, dan dia, MING, saudara angkat, sahabat sejati, sekutu dalam dunia yang kejam ini.

"Wei, kau tahu, kan? Dunia ini tak pernah adil," bisiknya suatu malam, api unggun menari di matanya.

"Tentu, Ming. Kita yang akan membuatnya adil," jawabku, mengepalkan tinju. Sebuah janji di atas bara.

Ming adalah cahaya di kegelapan hidupku. Dia yang mengajariku cara bertahan, cara menipu, cara MEMBUNUH. Kami sama-sama yatim piatu, sama-sama dilatih oleh Guru Zhao yang kejam. Guru Zhao yang selalu berkata, "Air mata adalah kelemahan. Dunia ini hanya menghargai kekuatan."

Namun, di balik senyum Ming yang menawan, aku merasakan sesuatu yang ganjil. Sebuah misteri yang terselubung rapat. Kami bersaing dalam latihan, selalu berusaha menjadi yang terbaik. Guru Zhao selalu membandingkan kami, menciptakan jurang persaingan yang semakin dalam.

"Wei, jangan lupakan siapa dirimu. Kau hanya anak jalanan," desis Guru Zhao suatu hari, setelah Ming mengalahkanku dalam pertarungan.

Kata-kata itu menyengat. Apa maksudnya? Siapa sebenarnya Ming?

Waktu berlalu. Kami tumbuh menjadi pembunuh bayaran yang ditakuti. Reputasi kami meroket, membuat iri banyak orang. Kekuatan kami semakin besar, begitu pula rahasia di antara kami.

Aku mulai menyelidiki latar belakang Ming. Apa yang kutemukan membuatku TERPAKU. Ming bukan sekadar anak yatim piatu biasa. Dia adalah putra seorang jenderal besar yang dikhianati dan dibunuh oleh musuh politiknya. Dan yang lebih mengejutkan… Guru Zhao adalah dalang dari pengkhianatan itu!

Aku menghadapi Ming dengan penemuan ini. Senyumnya memudar. Matanya memancarkan kesedihan yang mendalam.

"Jadi, kau sudah tahu, Wei?" bisiknya lirih.

"Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa?" teriakku, emosi meluap.

"Aku… aku takut. Takut kehilanganmu. Aku tahu, jika kau tahu kebenarannya, kau akan meninggalkanku," jawabnya, air mata (air mata! Ia menangis!) mengalir di pipinya.

Ternyata, Ming telah lama mengetahui kebenaran tentang Guru Zhao. Dia menggunakan kami berdua sebagai alat untuk membalas dendam. Dia memanfaatkan persaingan kami untuk mencapai tujuannya. Aku merasa dikhianati. Dijadikan boneka dalam permainannya.

Malam itu, di tengah hujan badai, kami bertarung. Pertarungan yang bukan sekadar fisik, tapi juga pertarungan hati. Setiap pukulan, setiap tebasan pedang, adalah ungkapan dari rasa sakit dan pengkhianatan.

"Ming, kenapa kau lakukan ini?" tanyaku, terengah-engah.

"Aku… aku hanya ingin keadilan. Keadilan untuk ayahku!" jawabnya, dengan suara serak.

Pertarungan berakhir dengan pedangku menembus jantungnya. Ming terjatuh, matanya menatap langit kelabu.

"Wei… kau… kau telah melakukan apa yang harus dilakukan," bisiknya, darah mengalir dari mulutnya.

Guru Zhao muncul dari kegelapan, tersenyum sinis. "Bagus, Wei. Kau telah membuktikan kesetiaanmu."

Aku berbalik, menatap Guru Zhao dengan tatapan membunuh. "Kesetiaan? Aku tidak setia pada siapa pun. Aku hanya setia pada KEBENARAN."

Dengan satu gerakan cepat, aku menusuk Guru Zhao. Dia terhuyung, terkejut dan kesakitan.

"Kau… kau…," gumamnya, sebelum ambruk ke tanah.

Aku berlutut di samping Ming. Air mataku (ya, air mata!) akhirnya menetes.

"Aku menunggumu lahir di dunia yang tak mengenal air mata, Ming... tapi ternyata, aku sendiri yang menciptakan neraka itu untukmu."

Dan di saat terakhirku, aku menyadari bahwa akulah yang sebenarnya dikhianati sejak awal...

Keheningan abadi.

You Might Also Like: Petrified Wood Guide To Its Meaning

Post a Comment

Previous Post Next Post