Angin malam berdesir di antara ranting-ranting pohon maple di halaman rumah, membawa aroma tanah basah dan kenangan yang memilukan. Di beranda, aku duduk di kursi goyang tua, dibungkus selimut wol yang dulu dirajutkan ibu untukku. Di tanganku, tergenggam erat surat terakhir dari Lin, yang kini hanya tinggal debu di altar leluhur.
Lin, cintaku, belahan jiwaku. Namanya dulu terukir dalam setiap desah napasku, dalam setiap senyumku. Namun, takdir kejam memisahkannya dariku, membawanya ke medan perang yang penuh lumpur dan darah, meninggalkan aku dengan janji kosong dan hati yang tercabik.
Lima tahun berlalu sejak surat itu tiba. Lima tahun sejak harapan terakhirku hancur berkeping-keping. Aku masih ingat jelas kata-katanya, terpatri dalam ingatan seperti luka bakar: "… Aku janji akan kembali kepadamu, Xiao Mei. Menikahimu di bawah pohon maple yang kita cintai. Tunggu aku, kumohon…"
Tapi Lin tidak pernah kembali.
Malam ini, bulan purnama bersinar terang, menerangi nisan Lin di kejauhan. Aku bisa merasakan kehadirannya, bayangannya menari-nari di sekelilingku. Seolah ia berbisik di telingaku, nama yang dulu sangat kurindukan, kini terasa bagai belati yang menusuk jantungku.
Xiao Mei… bisiknya, lirih.
Aku terisak. Penyesalan menggerogoti hatiku. Penyesalan karena tidak cukup kuat untuk menahannya pergi. Penyesalan karena membiarkannya berjuang sendirian. Penyesalan karena mencintainya terlalu dalam.
Kemudian, aku teringat. Teringat pada Jenderal Zhao, komandan yang mengirim Lin dan ratusan pemuda desa ke garis depan tanpa pelatihan yang memadai. Jenderal Zhao, yang sekarang hidup makmur di ibu kota, menikmati kekayaan dan kekuasaan yang didapatkan dari darah dan air mata rakyat jelata. Jenderal Zhao, yang tertawa mendengar berita kematian Lin.
Di depanku, di atas meja kayu, tergeletak sebuah kotak kecil. Di dalamnya, tersimpan racun yang kubuat sendiri dari bunga-bunga beracun yang tumbuh di kebunku. Racun yang tak berbau, tak berwarna, tak terdeteksi.
Beberapa bulan lalu, aku diterima bekerja sebagai pelayan di rumah Jenderal Zhao. Ia tidak mengenalku. Ia hanya melihatku sebagai pelayan yang patuh dan penurut. Ia sering memamerkan kekayaannya, bercerita tentang kehebatan dan keberaniannya di medan perang. Ia bahkan berani menyebut nama Lin dengan nada merendahkan.
Kemarin, aku menuangkan racun itu ke dalam anggurnya.
Malam ini, bayangan Lin menari lebih dekat. Ia tersenyum. Bukan senyum sedih dan pedih seperti dulu, tapi senyum penuh kemenangan.
Besok, Jenderal Zhao akan mati.
Keadilan memang lambat datang, tapi ia selalu menemukan jalannya.
Cinta membawaku pada janji, dan dendam menyelesaikan perhitungan.
You Might Also Like: 133 Rahasia Sunscreen Mineral Untuk