Drama Seru: Cinta Yang Hidup Di Dalam Bayangan



## Cinta yang Hidup di Dalam Bayangan Langit Jakarta, tahun 2047, warnanya senja permanen. Lebih tepatnya, *error*. Aplikasi kencan terakhir kali berfungsi dua bulan lalu, sebelum badai Matahari memporak-porandakan segalanya. Aku, namanya Anya, mencari secercah harapan di balik layar retak tabletku. Mencari... siapa? Seseorang. Siapa saja. Dulu, aku percaya algoritma. Sekarang, aku percaya pada *glitch*. Malam ini, sebuah anomali muncul: sebuah profil, foto buram, nama "Rendra", dan sederet puisi usang yang terasa asing sekaligus menghantui. Rendra. Dia mengirimiku pesan. "Di mana bintang-bintang? Terakhir kali aku lihat, mereka masih menari." Gayanya... kuno. *Kuno sekali*. Seperti keluar dari novel romansa yang ibuku sembunyikan di loteng. Aku membalas, "Bintang sudah mati, Rendra. Atau mereka terlalu malu menampakkan diri di langit yang sakit ini." Rendra, tahun 1947. Ya, kalian tidak salah baca. Aku berdebat dengan seorang pria dari *masa lalu*, di tengah jaringan yang sekarat. Katanya, dia seorang pejuang kemerdekaan, bermimpi tentang Indonesia yang jaya. Aku bertanya kepadanya tentang masa depan, tentang janji-janji teknologi. Dia menjawab dengan syair-syair Chairil Anwar. Percakapan kami bagaikan melukis di atas kanvas yang berlubang. Kata-kata kami melewati celah waktu, menyatu dan tercerai-berai. Aku menceritakan tentang gedung-gedung pencakar langit yang menjadi reruntuhan, tentang laut yang menelan daratan. Dia menceritakan tentang bambu runcing dan semangat yang membara. Anehnya, kami **saling memahami**. Di balik bahasa yang berbeda, di balik zaman yang terpisah, ada kerinduan yang sama: kerinduan akan keindahan, akan harapan, akan...cinta. Kami jatuh cinta. *Absurd, kan?* Suatu malam, dia mengirimkan sebuah foto yang jelas, untuk pertama kalinya. Seorang pria muda, matanya penuh tekad, senyumnya menawan. Di belakangnya, terlihat ladang padi yang menguning keemasan. Indah. Aku membalas dengan fotoku. Layar tabletku berkedip. Rendra tidak membalas. Hari-hari berlalu. Sinyal semakin melemah. Aku terus mengirim pesan, berharap dia akan melihatnya. Berharap dia masih di sana, di belahan waktu yang lain. Kemudian, aku menemukan jawabannya. Aku *selalu* tahu jawabannya, tapi aku menolaknya. Aku menemukan nama Rendra di sebuah prasasti di museum virtual. Seorang pahlawan yang gugur di usia muda. Kisah cintanya dengan seorang perawat bernama Anya, sayangnya, tidak pernah selesai. Dia meninggal sebelum mereka bisa menikah. Anya. Namaku Anya. Tabletku mati total. Aku menatap langit senja permanen, merasa hampa. Cinta kami bukan perjalanan waktu. Cinta kami adalah **gema**, resonansi dari sebuah kehidupan yang tak pernah selesai, sebuah janji yang tak pernah terpenuhi. Aku adalah *reinkarnasi* dari Anya yang lain. Rendra adalah Rendra yang sama. Di suatu tempat, di luar jangkauan sinyal, di luar batas waktu, aku yakin dia masih menunggu. Dan mungkin, itulah satu-satunya cara cinta bisa bertahan, di dunia yang retak ini: sebagai bayangan, sebagai harapan, sebagai kenangan yang berbisik... ... *Apakah kau masih mendengarku?*
You Might Also Like: Tutorial Sunscreen Mineral Untuk Kulit

Post a Comment

Previous Post Next Post