Baiklah, ini dia cerita pendek bergaya *dracin* dengan nuansa lirih dan penyesalan: **Judul: Aku Menolakmu dengan Logika, Tapi Hatiku Menjawab dengan Rindu** (Latar: Sebuah paviliun bambu di tepi danau berkabut, di malam hari. Musik *guqin* sayup-sayup terdengar.) Bulan purnama pucat menyinari wajahku yang terasa hampa. Di depanku, berdiri Lin Yi, lelaki yang pernah kucintai lebih dari nyawaku sendiri. Dulu. Kini, matanya memohon, bibirnya bergetar menyebut namaku, "Mei Lian..." Aku mendongak, menatapnya tanpa ekspresi. "Pergilah, Lin Yi. Aku tidak bisa menerimamu kembali." Ucapanku datar, sedingin es yang membungkus hatiku. Logikaku tajam, menyayat setiap kenangan indah yang pernah kami ukir bersama. Logika itu berkata, ia telah mengkhianatiku. Ia memilih kejayaan dan kekuasaan, menikahi putri bangsawan yang akan membantunya mendaki tangga kekaisaran. Tapi, di balik dinding logika yang kubangun kokoh, hatiku menjerit. Rindu itu bagai duri yang menusuk-nusuk, menyakitkan namun *TAK TERTAHANKAN*. Aku memilih diam. Bukan karena aku lemah. Bukan karena aku tidak mampu membalas sakit hati ini. Diamku adalah perisai. Diamku adalah kunci. Kunci untuk menjaga sebuah rahasia yang, jika terungkap, akan menghancurkan lebih banyak jiwa. ***Rahasia tentang siapa diriku sebenarnya.*** Lin Yi mengulurkan tangannya, berusaha menyentuh pipiku. Aku mundur selangkah. "Jangan! Jangan sentuh aku." "Mei Lian, kumohon! Beri aku kesempatan untuk menjelaskan!" serunya putus asa. Aku menggeleng. "Penjelasanmu tidak penting. Keputusanmu sudah jelas. Kamu memilih jalanmu. Sekarang, biarkan aku memilih jalanku." Jalan yang sunyi. Jalan yang penuh penyesalan. Jalan yang telah kutentukan sendiri. Bertahun-tahun lalu, aku menemukan sebuah *azimat giok* di sungai. Azimat itu memiliki kekuatan aneh, kekuatan untuk melihat masa depan. Awalnya, aku menggunakannya untuk kebaikan, membantu orang-orang di sekitarku. Namun, suatu malam, aku melihat masa depan Lin Yi. Aku melihatnya mati, dibunuh oleh musuh-musuhnya. Satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah... aku harus meninggalkannya. Aku harus membiarkannya menikahi putri itu. Hanya dengan cara itulah ia akan memiliki kekuatan dan perlindungan untuk bertahan hidup. Dan *itulah* rahasia yang tak bisa kuungkapkan. Aku mengorbankan kebahagiaanku sendiri demi keselamatannya. Lin Yi akhirnya menyerah. Ia menunduk, bahunya bergetar. "Baiklah," bisiknya lirih. "Jika itu yang kau inginkan..." Ia berbalik dan berjalan menjauh, sosoknya perlahan menghilang ditelan kabut. Saat itulah, aku melihatnya. Di balik punggungnya, di antara bayangan pepohonan bambu, seorang lelaki berjubah hitam tengah mengawasi kami. Matanya menyala-nyala dengan amarah. Lelaki itu adalah... *ayahku*. Dan rahasia yang lebih besar pun terkuak. Ayahku, seorang ahli sihir terlarang, telah menggunakan Lin Yi sebagai pion dalam rencana jahatnya untuk merebut kekuasaan. Rencana yang akan menghancurkan seluruh kekaisaran. Selama ini, aku pura-pura tidak tahu apa-apa, mengumpulkan bukti, menunggu waktu yang tepat untuk mengungkap kejahatan ayahku. Kepergian Lin Yi adalah bagian dari rencanaku. Takdir memang kejam. Aku harus mengkhianati cinta demi menyelamatkan orang yang kucintai, dan pada akhirnya harus melawan ayahku sendiri. Balas dendamku tidak melibatkan kekerasan. Cukup dengan mengungkap kebenaran, membiarkan takdir berbalik arah, dan melihat kejahatan ayahku hancur berkeping-keping. Bulan purnama kini sepenuhnya tertutup awan. Kegelapan menyelimuti paviliun bambu. Aku menggenggam erat azimat giok di tanganku. *Lin Yi mungkin selamat, tapi aku... apakah aku akan selamat dari semua ini?*
You Might Also Like: The Ritualistic Murder Of Charles
