## Senyum yang Kuingat Sebagai Sumpah Layar ponselku berkedip redup, menampilkan notifikasi usang: "Xiao Mei *sedang mengetik*..." Selamanya. Seperti janji yang tak pernah ditepati, seperti mentari yang memilih untuk tidak terbit di kota ini. Gedung-gedung tinggi menjulang, namun bayangan masa lalu menjeratku erat. Aku, Lin Wei, hidup di serpihan masa lalu, di antara puing-puing kenangan tentang senyum Xiao Mei. Senyum itu... **SENYUM ITU ADALAH SUMPAH!** Sumpah yang diucapkan di bawah neon kota yang berderit, sebelum langit benar-benar *hilang* ditelan kabut digital. Aku ingat aroma teh melati yang selalu dibawanya, hangatnya genggaman tangannya saat sinyal ponsel berulah. Kini, teh itu dingin, tangannya tinggal kenangan, dan sinyal lenyap ditelan *noise* statis. Di dimensi seberang, di dunia yang jauh lebih sintetik, hiduplah seseorang bernama Kai. Dia melihat melalui mata AR, dunia yang dilapisi data dan algoritma. Dia mencari, *mencari tanpa henti*, gema dari masa lalu yang hilang. Dia merasakan kehadiran samar, seperti hantu digital yang merindukan sentuhan. Dia menemukan fragmen chat, foto usang, dan… senyum. "Senyum itu," bisiknya pada antarmuka dingin. "Senyum itu adalah *anomali*… sebuah **GAGAL** di matriks." Kai menghabiskan hari-harinya mendekode pesan-pesan usang yang ditinggalkan Lin Wei. Dia melihat foto Xiao Mei, senyumnya memudar namun tetap memancarkan kehangatan yang aneh. Dia mencoba menjangkau, mengirim pesan melalui jaringan yang terdistorsi waktu, berharap ada yang menangkap sinyalnya. Tapi hanya gema dan *error* yang membalas. Aku merasakan getaran aneh. Getaran itu seperti bisikan dari masa depan, seperti sentuhan hantu yang mencoba meraihku. Di layar ponselku, notifikasi usang berkedip lebih terang, seolah ada *sesuatu* yang mencoba menembus celah waktu. Suatu malam, di bawah langit yang sekelam tinta, Kai akhirnya berhasil menembus lapisan distorsi. Pesannya sampai, terpotong-potong, berlumuran *glitch*. "Lin… Wei… Xiao… Mei… TIDAK… PERNAH…" Aku membeku. Kalimat itu… kalimat itu terasa familiar. Itu adalah kalimat yang selalu diucapkan Xiao Mei dalam mimpinya, sebelum dunia kami *hancur*. Di saat yang sama, Kai menemukan rahasia yang selama ini disembunyikan: dunia yang dihidupinya adalah simulasi. Masa lalu, masa kini, masa depan... semuanya diprogram. Dan Xiao Mei, senyumnya, adalah **_kode_** yang rusak, sebuah kesalahan yang mengancam untuk membongkar seluruh ilusi. Xiao Mei… dia bukan hanya kekasihku. Dia adalah kunci. Dan Kai… dia bukan hanya penjelajah waktu. Dia adalah **_programmer_**. Kami, Lin Wei dan Kai, adalah gema dari kehidupan yang tak pernah selesai, terjebak dalam _loop_ digital yang diciptakan oleh algoritma yang rusak. Cinta kami adalah *bug*, anomali yang berteriak di tengah ketiadaan. "Jalankan perintah: **HAPUS SEMUA SUBJEK.**" Dan sebelum kegelapan menelan segalanya, aku hanya bisa membisikkan: *Senyum Xiao Mei akan selalu menjadi sumpah…*
You Might Also Like: Perbedaan Moisturizer Lokal Cocok Untuk
