Cerita Seru: Aku Menulis Janji Di Udara, Tapi Angin Membawanya Ke Surga



**Aku Menulis Janji di Udara, Tapi Angin Membawanya ke Surga** Langit Kota Terlarang membiru, terlalu biru untuk menampung kesedihan yang menggerogoti hatiku. Salju tipis menempel di bulu mata lentik Hua Lin, membuatnya tampak rapuh di bawah cahaya senja. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun berlalu sejak aku, Pangeran Zhao, mengkhianati cintanya, menginjak janjiku untuk menikahinya. “Zhao,” bisiknya, suaranya serak tertelan angin. Angin yang sama yang dulu membawa tawa kami, sekarang membawa perpisahan abadi. Wajahnya, dulu penuh semangat, kini dihiasi garis-garis halus penyesalan. Sepuluh tahun hidup dalam kesunyian biara, menanggung beban pengkhianatanku. Aku, dengan seragam jenderal kebanggaan, berdiri tegap di hadapannya, tetapi hatiku remuk seperti porselen dinasti yang jatuh. "Hua Lin... maafkan aku." Ia tersenyum getir. Senyum yang DULU membuat jantungku berdebar kini menyayat jiwa. “Maaf? Apa maaf bisa mengembalikan waktu? Apa maaf bisa menghapus malam ketika kau menikahi Putri Lan?” *Malam itu*. Malam terkutuk itu menghantuiku setiap malam. Ayahku, Kaisar yang haus kekuasaan, memerintahkanku untuk menikahi Putri Lan demi memperkuat aliansi dengan suku barbar. Aku, pengecut, menuruti. Aku *memilih* takhta daripada cintaku. “Aku menulis janji di udara untukmu, Zhao. Janji pernikahan abadi, janji untuk selalu mencintaimu. Tapi angin... angin membawanya ke surga, di mana hanya para dewa yang bisa mendengarnya.” Hua Lin terbatuk, darah segar menodai salju di bawah kakinya. Tubuhnya yang lemah tidak mampu menahan penderitaan selama ini. Aku berlutut, memeluknya erat. Air mataku membeku di pipiku. “Jangan bicara seperti itu, Hua Lin. Aku akan melakukan apa saja untukmu! Aku akan meninggalkan takhta, membatalkan pernikahan….” Ia menyentuh pipiku dengan tangan gemetar. "Terlambat, Zhao. Terlalu TERLAMBAT." Lalu, matanya yang indah itu tertutup selamanya. Di pelukanku, Hua Lin menghembuskan napas terakhirnya. Aku meraung, amarah dan penyesalan bercampur menjadi satu. Aku bersumpah akan membalas dendam. Bukan dendam berdarah-darah. Bukan pembantaian. Tapi **KEADILAN**. Beberapa bulan kemudian, Kaisar jatuh sakit. Dokter istana menyatakan ia keracunan. Putri Lan, istriku, yang dengan setia merawatnya, dituduh berkhianat dan dieksekusi. Aliansi dengan suku barbar runtuh. Takhtaku goyah. Kerajaan dilanda kekacauan. Aku tahu siapa yang meracuni Kaisar. Aku tahu bahwa Hua Lin, sebelum memasuki biara, diam-diam memberikan resep racun mematikan pada sahabatnya, seorang tabib istana. Sebuah surat yang ia titipkan, untuk dibuka jika aku mengkhianatinya. Balas dendam yang sangat halus, begitu lembut, sehingga terasa seperti takdir. Aku, Pangeran Zhao, akhirnya menduduki takhta. Kekuasaan ada di tanganku. Tapi harga yang kubayar terlalu mahal. Aku bisa mendengar bisikannya di setiap langkahku, di setiap keputusan yang kuambil. Bisikan yang membawa aroma melati dan desahan penyesalan. Kini, aku adalah Kaisar yang berkuasa, tetapi hatiku tetap terkunci di bawah langit biru Kota Terlarang, bersama janji yang terbawa angin. _Apakah cintaku padamu, Hua Lin, cukup untuk menebus dosaku, atau akankah aku terus dihantui bayanganmu sampai akhir zaman?_
You Might Also Like: Tutorial Sunscreen Mineral Untuk Kulit

Post a Comment

Previous Post Next Post