Baiklah, inilah cerita pendek bergaya *dracin*, berjudul "Senyum yang Kuingat Sebagai Sumpah": **Senyum yang Kuingat Sebagai Sumpah** Alunan guqin meliuk pilu, senada dengan rembulan pucat yang mengintip di antara tirai bambu. Malam ini, di paviliun terpencil ini, aku duduk sendirian, memandangi danau yang tenang, namun menyimpan badai di kedalamannya. Dulu, paviliun ini adalah saksi bisu janji suci. Di sini, **dia**, tersenyum padaku. Senyum yang kurasa bagai mentari di musim dingin, menghangatkan jiwa yang beku. Senyum yang kini, hanya terasa bagai sumpah yang dilanggar. Dia, Li Wei, putra mahkota yang berjanji akan mencintaiku selamanya. Aku, Mei Hua, putri seorang jenderal yang sederhana, tak pernah bermimpi akan dicintai olehnya. Tapi, takdir memang suka bermain-main. Ia mencintaiku, dan aku membalasnya dengan sepenuh hati. Lalu, badai datang. Fitnah. Pengkhianatan. Dan... *pilihan*. Aku melihatnya berdiri di pelaminan, bukan bersamaku, melainkan dengan putri Perdana Menteri Zhao. Senyumnya, senyum yang dulu hanya untukku, kini dipersembahkan untuk wanita lain. Rasa sakitnya membakar, menghanguskan setiap sudut hatiku. Banyak yang bertanya mengapa aku diam. Mengapa aku tidak berjuang. Mengapa aku membiarkan mahkota impianku direnggut paksa. Mereka pikir aku lemah. Mereka salah. Aku menyimpan rahasia. Sebuah rahasia yang terlalu berbahaya untuk diungkapkan. Sebuah rahasia yang berkaitan dengan *tanda lahir* aneh di punggung Li Wei, yang hanya terlihat saat bulan purnama. Tanda yang sama persis dengan simbol klan terlarang, klan yang dianggap telah lama punah: Klan Bayangan. Klan Bayangan adalah ahli strategi perang, namun juga dikenal karena kesetiaan buta pada kekuatan gelap. Keluarga kerajaan takut akan kebangkitan mereka. Aku tahu bahwa Li Wei tidak tahu apa-apa tentang tanda itu. Ia hanyalah bidak dalam permainan yang lebih besar. Permainan yang melibatkan Perdana Menteri Zhao, yang ternyata adalah keturunan terakhir Klan Bayangan. Ia menikahkan putrinya dengan Li Wei untuk mendapatkan kekuasaan, untuk menghidupkan kembali klan terlarang. Jika aku mengungkapkannya, Li Wei akan dieksekusi karena dicurigai bersekongkol. Aku memilih diam. Aku memilih menanggung sakitnya, demi melindunginya. Beberapa tahun berlalu. Aku hidup dalam pengasingan, merawat kebun teh di pegunungan. Kabar tentang Li Wei sampai padaku. Ia menjadi kaisar yang kejam, dikendalikan sepenuhnya oleh Perdana Menteri Zhao. Kerajaan dilanda kekacauan. Namun, ada satu hal yang aneh. Setiap kali bulan purnama tiba, Li Wei menghilang. Ia selalu kembali dengan tatapan kosong dan perintah-perintah aneh yang menguntungkan Perdana Menteri Zhao. Suatu malam, aku bermimpi. Dalam mimpi itu, aku melihat Li Wei berdiri di altar, memuja sosok gelap yang menyerupai bayangan. Aku terbangun dengan keringat dingin. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku mengirimkan surat rahasia kepada para jenderal setia kerajaan, mengungkapkan kebenaran tentang tanda lahir Li Wei dan rencana jahat Perdana Menteri Zhao. Aku tidak menyertakan namaku. Aku hanya bertindak sebagai bisikan angin. Tak lama kemudian, kudeta terjadi. Perdana Menteri Zhao digulingkan dan dieksekusi. Li Wei, yang terbebas dari pengaruh Klan Bayangan, menyadari kekeliruannya. Ia mencoba memperbaiki kesalahannya, namun kerajaannya terlanjur porak poranda. Aku tidak pernah menemuinya lagi. Aku hanya melihatnya dari jauh, saat ia mengunjungi makam ibuku. Aku melihat penyesalan di matanya. Aku melihat harapan di mata rakyatnya. Takdir memang berbalik arah. Tanpa kekerasan, tanpa pertumpahan darah, keadilan telah ditegakkan. Namun, keadilan ini datang dengan harga yang sangat mahal. Aku kehilangan cinta, aku kehilangan hidupku. Aku hanya menyisakan *kenangan* yang menyakitkan. Guqin berhenti berdendang. Rembulan bersembunyi di balik awan. Angin berdesir lirih, seolah berbisik: Apakah dia akan pernah tahu bahwa akulah yang menyelamatkannya?
You Might Also Like: 0895403292432 Agen Kosmetik Bisnis