**Darah yang Menjadi Tinta Penyesalan** Hujan gerimis membasahi paviliun Lotus. Aroma melati bercampur dengan bau anyir darah, sebuah kombinasi yang akan selamanya menghantui Kaisar Xuan. Di hadapannya, Putri Lianhua terbaring, gaun sutra putihnya ternoda merah. Mata indah yang dulu penuh cinta kini tertutup rapat, selamanya terpejam dari dunia yang kejam. "Lianhua… *maafkan aku*," bisik Xuan, suaranya serak dan bergetar. Air mata berbaur dengan hujan di pipinya, menciptakan sungai penyesalan yang tak berujung. Dulu, mereka adalah sepasang kekasih yang berjanji untuk saling menjaga, untuk membangun kerajaan yang adil dan makmur bersama. Xuan, sang putra mahkota yang ambisius, dan Lianhua, putri angkat yang lembut hatinya. Mereka bermimpi tentang kebahagiaan abadi di bawah naungan pohon sakura. Namun, ambisi telah meracuni Xuan. Kekuasaan membutakannya. Ia menikahi Putri Xuelan, putri dari Jenderal Agung yang berpengaruh, demi memperkuat posisinya di istana. Lianhua, patah hati, mencoba menerima takdirnya. Ia tetap setia mendampingi Xuan, menjadi penasihatnya, menjadi bayangan yang selalu ada namun tak pernah diperhatikan. "Aku akan selalu ada untukmu, Xuan. Meski sebagai teman, meski sebagai bayangan," ucap Lianhua suatu malam, di bawah rembulan yang pucat. Kata-kata itu kini terngiang di telinga Xuan, seperti kutukan yang tak terhindarkan. Ia mengingat janji yang dilanggarnya, hati yang dikhianatinya. Malam ini, pengkhianatan itu mencapai puncaknya. Xuelan, yang cemburu dan penuh dendam, memerintahkan agar Lianhua dibunuh. Ia menuduh Lianhua berkhianat, padahal dosa yang sebenarnya berada di tangan Xuan sendiri. Kini, Xuan memeluk tubuh Lianhua yang dingin, merasakan denyut kehidupan yang telah pergi selamanya. "Aku *mencintaimu*, Lianhua. Dulu, sekarang, dan selamanya." Tetiba, *TERDENGAR* suara batuk di belakangnya. Xuan menoleh. Xuelan berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat pasi. "Kau... kau tahu?" tanya Xuan, suaranya bergetar. Xuelan tersenyum sinis. "Aku tahu. Aku selalu tahu. Dan sekarang, kau akan merasakan kehilangan yang sama seperti yang kurasakan." Beberapa hari kemudian, Xuelan ditemukan tewas di kamar tidurnya. Diduga bunuh diri, menusuk dirinya sendiri dengan jepit rambut giok milik Lianhua. Xuan, hancur dan tak berdaya, terus memimpin kerajaannya. Namun, bayangan Lianhua selalu menghantuinya. Keadilan telah ditegakkan, dengan cara yang *MISTERIUS*. Sejak saat itu, setiap tetes tinta yang ditorehkan Xuan di atas kertas terasa seperti darah Lianhua, darah penyesalan yang tak pernah kering. Keadilan telah ditegakkan, namun hati yang terluka, akankah pernah benar-benar sembuh, atau justru menyimpan benih dendam yang abadi?
You Might Also Like: Seru Ratu Itu Duduk Di Singgasana