**Kau Mencariku dalam Doa, dan Aku Menjawab dalam Mimpi** Kabut pagi menyelimuti Danau Bulan, seputih gaun pengantin yang terlupakan. Di tepiannya, seorang pria bernama Lin berdiri, siluetnya memudar ditelan *bayang-bayang*. Angin membawa harum bunga persik, namun hatinya hampa, sedalam sumur tanpa dasar. Ia mencari **DIA**, arwah dari lukisan kuno yang dulu dibelinya di pasar loak. Lukisan itu bukan sekadar kanvas dan cat. Di dalamnya, ia melihat seorang wanita, dengan mata sekelam obsidian dan senyum semanis madu hutan. Ia menamainya Yue, Bulan. Setiap malam, Lin terlelap dalam doa. Doanya bukan permohonan, melainkan panggilan. Ia berharap Yue akan datang dalam mimpinya. Dan *ajaibnya*, ia datang. Mimpi-mimpi itu adalah taman-taman terlarang, dihiasi air terjun kristal dan pepohonan perak. Yue menunggunya di bawah pohon sakura yang mekar sempurna, rambutnya menari ditiup angin musim semi. Mereka berbicara dalam bahasa hati, bahasa yang lebih tua dari waktu itu sendiri. "Kau mencariku, Lin?" bisik Yue, suaranya seperti gemericik air di bebatuan. "Aku selalu mencarimu," jawab Lin, matanya berkaca-kaca. "Bahkan sebelum aku tahu siapa dirimu." Namun, ada **BATAS** di antara dunia nyata dan dunia mimpi. Yue tidak bisa benar-benar bersamanya. Setiap kali Lin mencoba menyentuhnya, ia akan menghilang, menjadi serpihan cahaya yang beterbangan. Waktu berlalu bagai pasir di antara jari. Lin semakin terobsesi. Ia melukis wajah Yue di setiap kanvas, menulis namanya di setiap lembar kertas. Rumahnya dipenuhi bayangan Yue, sebuah kuil untuk cintanya yang tak terbalas. Suatu senja, di bawah langit yang berdarah, Lin menemukan sebuah kotak kayu tua di loteng. Di dalamnya, ada sebuah gulungan sutra. Ia membukanya dengan tangan gemetar. Itu adalah potret dirinya. Bukan potret dirinya yang sekarang, melainkan potret seorang pemuda dengan pakaian kuno, berdiri di tepi Danau Bulan yang sama, memandang seorang wanita di kejauhan. Wanita itu adalah Yue, persis seperti yang ada di lukisan. Di bawah potret itu, tertulis: "Lin, pelukis istana yang jatuh cinta pada arwah sang putri. Karena cintanya yang terlarang, ia mengutuk dirinya sendiri untuk terus mencarinya di setiap reinkarnasi." ****DEG!*** * *Jantung Lin seakan berhenti berdetak.* Yue bukan hanya arwah dari lukisan. Yue adalah bayangan dari masa lalunya sendiri, hukuman abadi yang dijalaninya karena cinta yang tak mungkin. Mimpi-mimpinya bukan hanya ilusi, melainkan reka ulang dari sejarah yang terus berulang. Di saat itulah, Yue muncul. Bukan dalam mimpi, bukan dalam lukisan, melainkan di hadapannya, di tepi Danau Bulan yang nyata. "Kau sudah mengingatnya," kata Yue, air mata mengalir di pipinya. "Kau sudah mengingat kutukan kita." Lin meraih tangannya, kali ini ia bisa menyentuhnya. Kulitnya dingin, sedingin es, namun sentuhannya terasa begitu familiar, begitu *MENYAKITKAN*. "Lalu apa yang akan terjadi sekarang?" tanya Lin, suaranya parau. "Kutukan akan terus berlanjut," jawab Yue. "Sampai salah satu dari kita berhenti mencintai." Lalu ia menghilang, meninggalkan Lin seorang diri di tepi Danau Bulan, di bawah langit yang kelabu. Kutukan telah terpecahkan, misteri telah terungkap, namun keindahan cinta mereka justru menjadi luka yang abadi. *Akankah aku menemukanmu lagi, di kehidupan selanjutnya, ataukah kau hanya bisikan dari musim semi yang telah lalu?*
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Yang Cocok