Kau Menatapku dari Balik Tirai Waktu, dan Aku Membalasnya dengan Air Mata
Embun pagi merayap di kelopak bunga plum, serupa dengan air mata yang menggenang di pelupuk mataku. Sudah bertahun-tahun, namun bayangmu masih setia menghantui, Ying. Kau menatapku dari balik tirai waktu, dari dunia yang tak bisa lagi kujangkau, dan aku membalasnya dengan air mata penyesalan yang tak berkesudahan.
Aku hidup dalam kebohongan. Kebohongan yang kurajut sendiri, benang demi benang, demi melindungi… siapa? Diriku sendiri? Atau dirimu? Entahlah. Yang jelas, kebohongan ini telah menjadi penjara yang lebih mengerikan daripada neraka.
Dia, Lin Wei, adalah satu-satunya cahaya dalam kegelapanku. Seorang wanita dengan senyum sehangat mentari dan hati selembut sutra. Namun, Lin Wei mencintai kebenaran. Dia adalah burung merak yang selalu berusaha melepaskan diri dari sangkar emas kebohongan. Dan aku, adalah penjaga sangkar itu.
"Katakan padaku, Gege," bisiknya suatu malam, rambutnya tergerai di bahuku, "Apa yang kau sembunyikan? Aku merasakan ada rahasia kelam yang membelenggumu."
Napasnya menerpa leherku. Aku membeku. Bagaimana bisa aku mengatakan padanya tentang masa lalu? Tentang perjanjian darah yang mengikatku dengan keluarga Mo? Tentang kematianmu, Ying, yang sebenarnya disebabkan oleh tanganku sendiri, meski secara tidak langsung?
Semakin aku berusaha menyembunyikan, semakin gigih Lin Wei mencari. Dia menggali masa laluku, mengorek luka-luka lama, dan pada akhirnya… dia menemukannya.
Kebenaran itu bagai belati es yang menembus jantungku. Lin Wei mengetahui segalanya. Tentang kebohonganku, tentang kematian Ying, tentang SEGALANYA.
Raut wajahnya berubah. Senyum hangatnya membeku. Hatinya yang dulu penuh cinta, kini hanya menyisakan gumpalan es.
"Kau…," bisiknya lirih, suaranya bergetar, "Kau membunuh Ying…"
Aku terdiam. Tak mampu membantah. Kata-kata itu adalah cambuk yang lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri.
Lin Wei pergi. Meninggalkanku dalam kehampaan yang lebih dalam dari sebelumnya. Aku kehilangan segalanya. Cahaya telah padam.
Namun, di balik kesedihanku, terbitlah sebuah tekad. Keluarga Mo. Mereka adalah dalang dari semua ini. Merekalah yang menjebakku, merekalah yang membuatku membunuh Ying, merekalah yang menghancurkan hidupku.
Balas dendam. Itulah satu-satunya hal yang tersisa.
Aku menyusun rencana dengan cermat, seperti melukis kaligrafi di atas sutra. Setiap goresan, setiap langkah, harus sempurna. Aku memanfaatkan kelemahan mereka, memutarbalikkan harapan mereka, dan akhirnya… menjatuhkan mereka.
Keluarga Mo hancur lebur. Kekayaan mereka lenyap. Kekuasaan mereka runtuh. Mereka kehilangan segalanya. Sama seperti aku.
Di akhir segalanya, aku berdiri di atas reruntuhan kekaisaran mereka. Tatapanku kosong. Tak ada kemenangan, tak ada kebahagiaan. Hanya kehampaan.
Aku kemudian menemui Lin Wei. Dia berdiri di tepi danau, memandang pantulan dirinya di permukaan air.
"Sudah selesai," ucapku tenang. "Aku telah membalas dendam."
Lin Wei berbalik. Tatapannya dingin, tanpa emosi. Dia tersenyum tipis. Senyum yang menusuk jantungku lebih dalam dari pedang.
"Balas dendam tidak akan mengembalikan Ying," ujarnya lirih. "Dan tidak akan pernah mengembalikan dirimu yang dulu."
Dia berbalik dan pergi, meninggalkanku sendiri di tepi danau.
Aku tahu, perpisahan ini adalah hukuman yang lebih berat daripada kematian. Balas dendamku memang menghancurkan mereka, tetapi juga menghancurkan diriku sendiri.
Senyum Lin Wei… itu adalah perpisahan yang abadi.
Apakah dia akan pernah memaafkanku?
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Bimbingan