Oke, ini dia kisah Dracin pendek berjudul 'Aku Mati di Tanganmu dan Hidup dengan Kenangan Itu': **Lorong Istana Yang Sunyi** Kabut tipis menyelimuti puncak Gunung Qingyun, menyembunyikan jejak jalan setapak. Di bawahnya, lorong-lorong Istana Bulan Sabit sepi dan dingin. Angin bertiup lirih, membawa bisikan masa lalu yang pahit. Di salah satu sudut yang remang, berdiri seorang pria. Wajahnya tertutup topeng perak, hanya matanya yang terlihat—penuh luka dan tekad. Dia adalah Lin Wei, yang seharusnya sudah mati lima tahun lalu. Dibunuh oleh racun mematikan, di tangan orang yang paling dicintainya. Atau begitulah cerita yang beredar. Di ujung lorong, muncul seorang wanita. Gaun sutranya berkilauan tertimpa cahaya obor, wajahnya cantik namun dingin. Putri Mei, mantan tunangan Lin Wei, dan kini permaisuri kerajaan. "Lin Wei?" Suaranya lembut, hampir tak terdengar, namun terasa menusuk seperti jarum es. Lin Wei tidak bergeming. "Putri Mei," jawabnya, suaranya serak setelah bertahun-tahun membisu. "Atau haruskah aku memanggilmu Permaisuri?" "Kau kembali." "Untuk mencari jawaban. Pertanyaan yang *TERUS* menghantuiku." Putri Mei mendekat, langkahnya anggun dan penuh perhitungan. "Pertanyaan apa yang bisa kubantu jawab, *orang mati*?" "Mengapa?" Lin Wei menatapnya lurus. "Mengapa kau meracuniku?" Putri Mei tersenyum tipis. "Bukankah sudah jelas? Kekuasaan. Cinta. Keduanya tidak bisa kumiliki jika kau masih hidup. Kau adalah penghalang." "Kau tahu aku akan menyerahkan segalanya untukmu. Kekuasaan, kehormatan, bahkan nyawaku." "Kau *TIDAK* mengerti, Lin Wei." Putri Mei berhenti tepat di depannya. "Aku tidak menginginkan *PEMBERIAN*. Aku menginginkan *KEKUASAAN* itu sendiri. Aku ingin orang-orang berlutut bukan karena cinta mereka padaku, tapi karena *TAKUT* padaku." Lin Wei terdiam. Ingatannya berputar kembali ke malam itu. Anggur beracun, senyum manis Putri Mei, dan janji cinta abadi yang ternyata adalah racun paling mematikan. "Kau percaya aku mati, bukan?" kata Lin Wei akhirnya, mengangkat tangannya dan menyentuh topeng peraknya. "Kau salah. Aku hidup. Dengan kenangan ini. Dengan dendam ini. Dan dengan rencana yang telah kutata selama lima tahun terakhir." Putri Mei tertawa sinis. "Kau pikir bisa mengalahkanku? Aku adalah permaisuri kerajaan ini. Aku memiliki segalanya." Lin Wei membuka topengnya perlahan. Wajahnya tidak seperti yang diingat Putri Mei. Ada bekas luka bakar di separuh wajahnya, sisa dari api yang hampir merenggut nyawanya setelah diracun. Tapi matanya… matanya bersinar dengan *KEBENARAN*. "Kau salah, Putri. Kau tidak memiliki *APAPUN*." Dia mengangkat tangannya. Dari balik bayangan lorong, muncul sekelompok prajurit, setia pada Lin Wei. Ternyata, selama ini dia membangun kekuatan di balik layar, menunggu saat yang tepat untuk membalas dendam. Putri Mei terkejut. Dia melihat sekeliling, menyadari bahwa dia telah dijebak. Dia adalah pion dalam permainan yang bahkan tidak dia sadari. "Kau… sejak kapan…?" Putri Mei bertanya, suaranya bergetar. Lin Wei mendekat, berbisik di telinganya, "Sejak kau memberiku anggur itu. Sejak saat itu, aku sadar bahwa hidupku hanyalah alat untuk mencapai tujuanmu. Dan sekarang, giliranku untuk menggunakanmu." Putri Mei menatap Lin Wei dengan tatapan ngeri. Dia akhirnya mengerti. Lin Wei tidak pernah menjadi korban. Dia adalah dalang di balik semua ini. Dia menggunakan kematiannya sebagai kedok untuk menyusun rencana balas dendam yang sempurna. Lin Wei mundur selangkah, membiarkan prajuritnya membawa Putri Mei pergi. Dia menatap permaisuri itu untuk terakhir kalinya, lalu berbalik dan menghilang ke dalam kabut. Di lorong yang sunyi, hanya tersisa keheningan dan bisikan angin. Dan sebuah kebenaran yang dingin membekukan tulang: *Racun itu tidak membunuhku, Putri. Racun itu membangunkanku. Dan kau sendiri yang menanam benih kehancuranmu.*
You Might Also Like: Jual Skincare Aman Untuk Kulit Sensitif