Endingnya Gini! Pelukan Yang Tersisa Di Dalam Mimpi



Tentu, ini dia kisah pendek bergaya dracin berjudul 'Pelukan yang Tersisa di Dalam Mimpi': **Pelukan yang Tersisa di Dalam Mimpi** Aula berdansa istana berkilauan, memantulkan cahaya lilin ke gaun-gaun sutra yang berputar. Di tengah gemerlap itu, berdiri Lin Wei, bagaikan anggrek putih di antara mawar merah. Senyumnya *sempurna*, tapi hanya dia yang tahu betapa rapuhnya senyum itu. Dulu, senyum ini hanya untuknya, Chen Yi, sang pewaris tahta, kekasihnya. Sekarang? Itu topeng. Chen Yi mendekat, dengan senyum yang dulu membuatnya berdebar. Kini, senyum itu terasa *MENIPU*. Tangannya meraih pinggang Lin Wei, menariknya ke dalam pelukan yang dulu terasa menghangatkan. Sekarang? *RACUN*. Lin Wei membiarkan dirinya dipeluk, merasakan dinginnya permata di dada Chen Yi menembus gaunnya. Permata itu adalah simbol status, kekuasaan, dan… pengkhianatan. Ingatannya melayang. Danau Lotus di musim semi, hembusan angin yang membawa aroma melati, dan janji Chen Yi. "Wei, aku akan selalu menjagamu. Kau adalah matahariku." Janji itu kini berubah menjadi *BELATI* yang menusuk jantungnya perlahan namun pasti. Ia tahu, Chen Yi akan menikahi putri Jenderal Agung, demi aliansi politik. Cinta mereka? Diinjak-injak demi kekuasaan. Selama berminggu-minggu, Lin Wei menyembunyikan lukanya. Ia tetap anggun, cerdas, dan bahkan lebih mempesona dari sebelumnya. Ia menghadiri setiap pertemuan, setiap perjamuan, dengan kepala tegak. Tak ada yang tahu badai berkecamuk di dalam hatinya. Ia belajar permainan ini, permainan kekuasaan. Ia belajar bahwa senyum bisa menjadi senjata yang mematikan. Malam pernikahan Chen Yi dan Putri Jenderal tiba. Istana lebih gemerlap dari biasanya. Lin Wei berdiri di balkon, menyaksikan kembang api meledak di langit. Ia memejamkan mata, membayangkan wajah Chen Yi saat ia mendengar berita yang akan segera tersebar. Berita tentang perselingkuhan sang Putri dengan salah satu panglima perang. Berita tentang skandal yang akan mengguncang kerajaan. Berita yang disebarkannya dengan *CEMERLANG*, tanpa meninggalkan jejak. Tak ada darah yang tertumpah. Tak ada nyawa yang melayang. Hanya penyesalan. Penyesalan abadi Chen Yi karena telah melepaskannya. Penyesalan karena telah menukar cinta sejati dengan kekuasaan yang fana. Lin Wei membuka matanya. Kembang api telah padam, meninggalkan asap tipis di udara. Ia berbalik, melangkah masuk ke istana, dengan senyum *SEDIKIT* berbeda di bibirnya. Senyum kemenangan yang pahit. Cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama… *dan terkadang, sulit membedakannya.*
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Fleksibel Kerja

Post a Comment

Previous Post Next Post