**Aku Menulis Cerita Kita di Tempat yang Tak Bisa Ditemukan Sejarah** Hujan jatuh di atas nisan batu. Bukan derai air mata langit yang murka, melainkan bisikan *sunyi* yang menenangkan. Udara lembab, membawa aroma tanah basah dan kenangan yang memudar. Di sanalah aku berdiri, atau lebih tepatnya, melayang. Roh yang terikat. Dunia yang kulihat kini kabur dan tembus pandang. Cahaya rembulan menembus tubuhku, seolah aku hanyalah _bayangan_ yang menolak pergi. Dulu, aku adalah Lin Mei. Sekarang, aku hanya gema dari nama itu. Aku kembali bukan karena dendam, meski darah masih terasa *hangat* di tanganku—atau ingatan tentangnya. Aku kembali karena ada kebenaran yang belum terucap, janji yang belum tertunaikan, sebuah _harmoni_ yang terpecah dan tak bisa diperbaiki dalam diam. Rumah itu… Rumah tua dengan taman lavender yang dulu begitu semarak. Sekarang, hanya kerangka kesepian. Bayang-bayang masa lalu menari di dinding-dindingnya. Setiap sudut menyimpan potongan percakapan, tawa yang kini hanya bergema dalam *kesunyian* abadi. Dulu, aku sering duduk di beranda, menulis. Menulis tentangnya. Tentang cinta yang tumbuh seperti mawar liar, indah namun penuh duri. Sekarang, aku kembali untuk menulis. Menulis akhir cerita kita. Di tempat yang tak bisa ditemukan sejarah, di antara dunia hidup dan _arwah_ yang gelisah. Aku mencari buku harian itu. Bukan untuk membaca ulang kisah cinta kita yang penuh *kepalsuan*, melainkan untuk menghapus satu nama. Nama yang selama ini menjadi beban di pundakku, rantai yang mengikat jiwaku pada dunia ini. Nama yang, ironisnya, adalah namaku sendiri. Perlahan, ingatan itu datang. Bukan sebagai kilatan petir yang menyambar, melainkan sebagai tetesan air hujan yang terus menerus. Ayah… Pertemuan rahasia… *Pengkhianatan*… Kata-kata yang tak sempat kuucapkan sebelum… sebelum semuanya menjadi gelap. Aku menemukannya. Di bawah lantai kayu yang berderit, tersembunyi di antara debu dan _lupa_. Lembaran-lembaran kertas usang yang menyimpan kebenaran yang selama ini dicari. Bukti yang selama ini kurindukan. Bukan *balas dendam* yang kuburu. Bukan pula pengakuan dari mereka yang masih hidup. Aku hanya mencari kedamaian. Kedamaian untuk jiwaku yang terluka, untuk hatiku yang remuk. Kedamaian yang akan membawaku pergi, menuju cahaya yang selalu kurindukan. Aku menulis namaku di halaman terakhir buku harian itu, lalu mencoretnya. *Dihapus*. Seperti *hujan* yang berhenti setelah badai berlalu, aku merasakan ketenangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Beban itu… *TERLEPAS*! Akhirnya… Arwah itu baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya…
You Might Also Like: Distributor Skincare Passive Income
